

“hidung penyok” atau “bisu” hingga buku sekolahnya dicoret-coret. “Fernita sering pulang dengan mata sembab. Ia pernah berkata tidak mau sekolah lagi karena lelah diejek.…Hati saya remuk mendengar itu,” tutur Bu Anita lirih.

Anak kedua Bu Anita, Fernita (13 tahun), mengidap bibir sumbing dan membutuhkan operasi. Namun biaya yang besar membuat operasi itu tertunda hingga sekarang. Fernita pernah mengalami trauma mendalam karena bullying saat TK.

Bu Anita (32 tahun) adalah sosok ibu luar biasa. Sejak suaminya meninggal dua bulan lalu, ia harus menjadi tulang punggung bagi keempat anaknya. Cobaan hidup keluarga ini tidak berhenti di Fernita, namun Anak bungsunya, Kalief Attarizky, baru berusia 3 tahun namun sudah mengidap berbagai kelainan serius: jantung bocor, paru-paru mengecil sehingga tidak berkembang baik, riwayat laringo stenosis, dan bahkan diduga Down Syndrome. Dugaan terakhir belum bisa dipastikan karena pemeriksaan medis lengkap membutuhkan biaya Rp1,8 – Rp2,5 juta, angka yang saat ini mustahil bagi Bu Anita untuk dipenuhi.
“Saya hanya ingin Kalief sembuh, bisa tumbuh seperti anak-anak lain, dan kakaknya bisa tetap semangat sekolah meski sudah trauma dibully. Saya ingin mereka punya masa depan. Saya ingin mereka bahagia, walau tanpa ayah, walau dengan segala keterbatasan,” ucap Bu Anita dengan mata berkaca-kaca.
Sejak usia 1,5 bulan, Kalief lebih sering tinggal di rumah sakit daripada di rumah. Setiap kali diizinkan pulang, itu pun hanya 1-2 hari saja sebelum kembali rawat inap. Paru-paru Kalief yang lemah membuatnya kesulitan bernapas normal, tubuh kecilnya harus terus dibantu perawatan medis. Untuk jantungnya, kontrol dilakukan setiap 6 bulan. Tapi perjuangan terbesar justru pada terapi makan, minum, dan fokus di rehabilitasi medik RS dua kali seminggu, karena Kalief belum bisa makan biasa; nutrisinya hanya lewat susu melalui selang NGT di hidungnya.
Di tengah beban ini, Bu Anita tidak menyerah. Ia harus membesarkan empat anak, mencari nafkah, dan mendampingi Kalief yang sakit-sakitan. Sejak dulu ia berjualan makanan dan minuman di pinggir jalan, hanya memperoleh Rp50.000–Rp100.000 sehari. Ia juga pernah menulis cerita untuk dijual ke production house agar ada pemasukan tambahan. Kini semua beban jatuh pada satu bahu seorang ibu, termasuk hutang Rp24 juta hasil pinjaman untuk biaya berobat Kalief dan mengurus pemakaman suaminya.

Namun meski semua terasa hampir mustahil, Bu Anita tetap berusaha. Setiap pagi ia menyiapkan dagangan untuk dijual di pinggir jalan agar anak-anaknya tetap punya makan dan tetap sekolah. Siang harinya ia mengurus Kalief di rumah sakit, sore kembali berjualan bila memungkinkan. Ia melakukan ini sambil membawa harapan bahwa suatu hari Kalief akan sembuh dan Fernita bisa kembali percaya diri untuk sekolah.

Sahabat Kebaikan, kisah Bu Anita adalah bukti bahwa cinta seorang ibu mampu menahan beban yang luar biasa berat. Ia tidak meminta kemewahan, hanya ingin anaknya tetap hidup, sembuh, dan tetap bisa sekolah.
Mari bersama-sama membantu meringankan beban Bu Anita dan anak-anaknya. Bantuan sekecil apapun sangat berarti untuk biaya berobat Kalief, susu khusus, terapi, dan kebutuhan sehari-hari keluarga ini agar mereka tetap bisa melanjutkan hidup.
Disclaimer : Donasi yang terkumpul akan digunakan untuk memenuhi segala kebutuhan Bu Anita dan anak-anaknya dari mulai modal usaha, biaya pendidikan dan kebutuhan bulanan nya. Dan jika terdapat kelebihan dana akan di gunakan untuk implementasi program pangan Bumi Syam serta untuk para penerima manfaat lainnya di bawah naungan Yayasan Globa Sedekah Movement.