


Di sebuah pelosok negeri, berdiri sebuah mushola sederhana bernama Al Hikmah.
Bangunannya terbuat dari bambu. Tiang-tiangnya mulai rapuh. Atapnya bocor di sana-sini. Saat hujan turun, lantainya berubah menjadi becek dan santri-santri kecil harus menghentikan kegiatan mengaji karena air masuk dari berbagai sudut bangunan.
Namun ada satu hal yang tidak pernah bocor.
Semangat belajar agama mereka.
Walaupun sangat sederhana, mushola Al Hikmah tak pernah sepi dari aktivitas ibadah, setiap hari senantiasa digunakan untuk shalat berjamaah, belajar tulis Al Qur'an dan kitab yang dibina oleh Ustadz Sutardi.

Selama 21 tahun menuntut ilmu di pesantren, Ustadz Sutardi mempersiapkan dirinya untuk mengabdi kepada masyarakat.
Kini beliau mengajar anak-anak membaca Al-Qur'an secara sukarela.
Mayoritas santrinya berasal dari keluarga buruh tani dan pekerja serabutan yang penghasilannya hanya sekitar Rp30.000–35.000 per hari.

Karena itulah, beliau tidak pernah meminta bayaran.
"Kehadiran santri untuk mau belajar agama saja sudah menjadi kebahagiaan bagi kami."
Kalimat sederhana itu menggambarkan betapa besar keikhlasan seorang guru yang memilih tetap mengajar meski hidup dalam keterbatasan.
.
Selama lebih dari dua dekade, Mushola Al Hikmah menjadi pusat ibadah dan pendidikan agama bagi masyarakat sekitar.
Namun usia bangunan mulai menunjukkan batasnya.
Beberapa tiang kayu telah lapuk.
Atap bocor saat hujan.
Dinding bambu berlubang.
Lantai dipenuhi lumpur ketika musim hujan datang.
Mushola ini juga belum memiliki fasilitas wudhu yang layak.
Banyak santri terpaksa mengambil air dari kubangan di area persawahan untuk berwudhu sebelum belajar.

Hari ini yang mereka butuhkan bukan semangat baru.
Semangat itu sudah ada.
Yang mereka butuhkan adalah tempat yang lebih layak untuk belajar, beribadah, dan menghafal ayat-ayat Allah.
Insya Allah, setiap bantuan yang Sahabat berikan akan digunakan untuk: