

Teriknya matahari dan panasnya aspal tak pernah dihiraukan. Dengan perut kosong tubuh rentanya dipaksa untuk terus berjalan. Karena inilah satu-satunya harapan, perutnya bisa terisi pada hari ini.
Keringatnya terus bercucuran seolah tak pernah mengenal lelah. Setiap tempat sampah menjadi satu-satunya harapan hidup bagi Abah Ude (70 tahun).
Tak besar yang bisa Abah Ude dapatkan dari hasil mulungnya. Jika beruntung Abah bisa mendapatkan uang 10ribu - 30ribu rupiah dari hasil penjualan barang-barang bekasnya. Jumlah yang bahkan hanya cukup untuk sekedar mengenyangkan perutnya.
.
*Jika malam tiba, Abah hanya bisa tidur didekat tumpukan sampah, atau sesekali digudang tua dipinggir jalan yang sudah reyot. karena Abah tak memiliki rumah. Bau menyengat seolah menjadi hal biasa bagi Abah.*

Rasa lapar adalah penderitaan yang paling sering beliau hadapi. Kadang perutnya kosong seharian, sebab uang yang didapat habis untuk membeli air dan obat karena sering sakit-sakitan.

Pernah suatu hari Abah sedang lapar banget, karena dari kemaren Abah belum terisi perutnya. Dengan berat hati beliau tukar jaket lusuh yang beliau gunakan setiap hari dengan sebungkus nasi untuk mengisi perutnya.
.
Padahal jaket itu adalah satu-satunya pelindung tubuh beliau dari hujan dan angin malam. Abah hanya bisa menggigil saat hujan turun.
Hidup Abah Ude adalah potret perjuangan tanpa akhir. Tidak ada keluarga yang menemani, tidak ada rumah yang bisa disinggahi, dan tidak ada kepastian apakah besok beliau bisa makan atau tidak.
.
Sahabat kebaikan, mungkin saat ini perut kita sudah kenyang memakan beragam makanan yang serba lezat dan nikmat. Tapi diluaran sana ada Abah Ude dan para lansia lainnya yang saat ini sedang berjuang mengisi perutnya dalam kondisi perut kosong. Maukah kita berbagi sesuap nasi untuk mereka agar perutnya bisa terisi
![]()
Belum ada Fundraiser
![]()
Menanti doa-doa orang baik